RESENSI NOVEL

PADA SENJA YANG MEMBAWAMU PERGI

Oleh: Amanatul Imaniyyah

 


Identitas Buku

Judul Buku            :  Pada Senja Yang Membawamu Pergi

Penulis                   :  Boy Candra

Penyelaras             :  eNHa

Desainer Sampul   :  Agung Nugroho

Ilustrasi Isi             :  Gita Ramayudha

Penata Letak          :  Gita Ramayudha

Jenis Novel            :  Novel Fiksi

Penerbit                  :  GagasMedia

Tahun Terbit          :  2016 (Cetakan Pertama)

Kota Terbit            :  Jakarta Selatan

Tebal Buku            :  13 x 19 cm

Jumlah Halaman    :  vii + 248 halaman

Nomor ISBN         :  978-979-780-864-8

 


 

Sinopsis

Tokoh utama novel ini adalah Gian Arianto. Seorang mahasiswa di perguruan tinggi Padang. Laki-laki yang akrab disapa Gie itu, awalnya memilih jurusan Bahasa Indonesia demi memenuhi harapannya. Namun, dia tidak diterima pada jurusan tersebut, akhirnya memilih jurusan Managemen Pendidikan.

Gie lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya merupakan seorang guru di desa dan mempunyai tempat les Bahasa Indonesia untuk anak-anak di sekitar rumah. Hal ini timbul karena keprihatinan ayah Gie terdahap anak-anak desa yang belum fasih berbahasa Indonesia. Sejak masih sekolah ayah Gie menekankan padanya biaya untuk kuliah hanya empat tahun. Jika tidak lulus pada waktu yang sudah ditentukan, biaya kuliah harus dicari sendiri.

Saat kuliah semester tiga Gie berpacaran dengan Kaila, seorang mahasiswi jurusan seni, anak pengusaha besar di Padang. Setelah mereka pacaran dua tahun, Kaila memutuskan berpisah dengan Gie, karena Kaila sadar bahwa ayahnya tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan Gie.

Putus dengan Kaila sempat membuat Gie terpuruk. Beruntung dia mempunyai sahabat sejati yang selalu ada untuk menemaninya. Sahabatnya yaitu Putri, Andre dan Randi. Mereka berempat berteman semenjak awal masuk perguruan tinggi karena sama-sama menjadi korban bulian senior. Hal itulah yang membuat mereka akrab dan saling mendukung satu sama lain.

Ketiga sahabat Gie mempunyai sifat yang berbeda-beda. Seperti Putri yang memendam perasaan terhadap seorang lelaki bernama Bagas. Tetapi, ternyata Bagas lebih memilih perempuan lain. Meskipun cintanya tak berbalas, namun Putri tetap semangat untuk segera lulus dan memilih move on dari lelaki yang disukainya.

Andre mempunyai sifat pendiam. Dia lebih asyik bermain dengan laptopnya dari pada bermain-main. Dulu semasa SMA dia pernah menyukai perempuan. Namun karena dikhianati, semenjak itu pula dia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lagi.

Sementara Randy merupakan anak seorang pengusaha. Baginya kuliah hanya sekedarnya saja. Dia terkenal dengan sifat playboynya karena seringkali berganti-ganti pacar. Meskipun begitu, dia sahabat yang setia kawan.

Pertemuan dan perpisahan dengan seseorang memang selalu membawa rahasia sendiri kapan datangnya. Seperti sebuah bola yang menggelinding mengenai tangan Gie saat membawa pop mie panas menjadi penyebab pertemuannya dengan Aira.

Aira seorang wanita yang misterius. Terkadang sifatnya dingin seperti menjaga jarak dengan Gie. Tetapi, kadang sifatnya juga lembut seolah memberi harapan pada Gie. Hingga Gie tidak berani menyampaikan perasaannya pada perempuan itu karena bingung.

Hingga pada suatu hari, Aira meminta Gie menemaninya seharian. Tanpa ada tujuan mereka berjalan-jalan di pasar, masuk karaoke hingga menikmati senja di Sitinjau Lauik. Aira melakukan itu semua punya alasan sendiri yang dipendamnya.

Unsur Intrinsik

·      Tema: Sebuah Kisah Cinta dan Edukasi Yang Membara.

·      Tokoh dan Penokohan

a.     Gian Arianto/Gie: sabar, tertutup, jarang bersosialisasi, memiliki semangat tinggi dalam mengembangkan Bahasa Indonesia.

b.    Putri: rajin, cerdas, peduli, perhatian.

c.     Randi: playboy, pemalas, terkadang penasihat yang baik.

d.    Andre: antisosial, tidak peduli dirinya sendiri.

e.     Kail: manja, posesif.

f.     Aira: misterius, bertanggung jawab.

·      Latar

a.     Waktu: pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari.

b.    Tempat: Kos, Kampus, Kafe Uni Eva, Taman, Pantai.

c.     Suasana: sedih, tegang, bahagia.

·      Alur: campuran.

·      Sudut Pandang : Orang ketiga serba tahu.

·      Amanat

Dalam novel ini kita belajar bahwa kesederhanaan mimpi yang dimiliki yang dimiliki Gie, yaitu mengabdi untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia dan meneruskan Bimbel Ayahnya. Sebuah pengabdian yang akhirnya diabadikan dalam sebuah penghargaan.

Meraih cita-cita sebenarnya bukan hanya menyenangkan diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang di samping kita

Cinta itu bukan hanya cantik atau tampan pasangan, tetapi bagaimana seseorang bisa nyaman saat berada di sisinya.

Urusan cinta jangan sampai mengganggu pendidikan apalagi kesehatan.

Suka tidak suka kehidupan tetap berlanjut. Jadi, jangan terlalu lama berkeluh kesah, segera bangkit untuk menggapai impian.

Mimpi itu adalah bunga tidur dan akan hilang ketika bangun. Namun impian adalah sesuatu yang harus kau capai ketika kau bangun. Maka, bangun dan kejarlah impianmu.

Sejauh apapun jarak dan tantangan, jika Tuhan mentakdirkan bersama dalam suatu ikatan maka apapun akan dilakukan.

Unsur Ekstrinsik

·      Nilai Moral

Nilai moral yang bisa kita petik dari novel ini yaitu kita tidak boleh tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut, kita harus bangkit karena Tuhan memiliki rencana yang lebih indah bagi manusia. Lalu dalam persahabatan kita tidak boleh meninggalkan satu sama lain dalam suka ataupun duka.

·        Nilai Pendidikan

Dalam menggapai impian kita, jangan sampai persoalan yang kita alami menghalangi langkah kita untuk mewujudkannya. Jadikan sebagai bumbu-bumbu penyedap dalam perjalanan kita untuk meraih mimpi.

·        Nilai Agama

Kita harus berbakti kepada orang tua kita. Jangan sampai mengecewakan mereka karena harapan mereka sangat besar kepada kita. Seperti Gian yang mencoba untuk menepati janjinya kepada kedua orang tuanya untuk lulus kuliah tepat waktu.

·        Nilai Sosial

Dalam novel ini kita diajarkan untuk menghargai orang lain apapun bentuknya, misalnya menghargai karya yang dihasilkan oleh orang lain. Seperti Gian yang mencoba untuk membeli buku yang orisinal meskipun bekas daripada membeli buku bajakan karena dia sadar bahwa dengan membeli buku bajakan maka dia akan menghancurkan penulis dan penerbit buku secara tidak langsung.

 

Keunggulan

Keunggulan novel “ Pada Senja Yang Membawamu Pergi ” adalah

a)    Cover sangat estetik, senja yang terkesan dibuat blur, kesan melankolisnya indah. Bahan cover juga menyenangkan untuk dipegang dan unik karena bagian depan dilipat.

b)    Menampilkan kesan dan pesan moral yang baik dalam cerita.

c)    Tidak ada typo.

d)    Ada pembatas buku yang bagus.

e)    Banyak mengulas adat dan budaya, khususnya Sumatra Barat.

f)     Terdapat sketsa gambar yang disertai dengan kalimat puitis yang membangun.

g)    Alur cerita yang simpel, mudah dipahami dan terasa sangat hidup.

Kelemahan

Kelemahan novel “ Pada Senja Yang Membawamu Pergi ” adalah

a)    Terdapat beberapa kata atau bahasa yang sulit untuk dimengerti.

b)    Bagian awal cerita yang tampaknya lambat.      

c)    Konfliknya terasa flats.

d)    Diksi yang klise.

e)    Terlalu banyak adegan yang kurang penting.

Kesimpulan

Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sehingga masih ringan untuk dibaca oleh kalangan remaja. Meskipun terdapat bahasa daerah Minang yang belum tentu bisa dimengerti semua orang, tetapi penulis memberi terjemahan di bagian bawah buku sehingga semua orang bisa memahaminya. Novel ini merupakan novel bergenre romansa dan pendidikan. Menceritakan kisah seorang anak kuliahan yang hidup di perantauan bersama tiga sahabatnya yang selalu menemani pada setiap keadaan. Mengejar impian dalam mengenyam pendidikan dan juga kisah asmara mereka yang diceritakan secara runtut dan sinkronis.

 

 

 

Komentar